"Good for you!"
Tak perlu menjadikan semua hal tentang diri sendiri
Akrab dengan tiga kata ini? Saya melatih diri untuk jadi orang yang mudah dan terbiasa mengucapkan good for you sejak mengenalnya saat tinggal di Leeds. Ucapan ini bisa memvalidasi cerita lawan bicara, tanpa perlu tergoda mengadu nasib, sekaligus mengingatkan diri bahwa hidup saya juga sudah cukup. Kok bisa?
Di pekan sebelumnya, kita berduka atas penganiayaan anak di daycare dan juga kecelakaan KA jarak jauh–KRL. Sedihnya, linimasa justru dibanjiri komentar yang nir-empati dan gemar membanding-bandingkan kondisi celaka tersebut dengan keadaan atau pilihan personal.
Kita seolah makin sulit menjadi saksi yang hadir, dan makin gemar menjadi juri dadakan. Padahal, apa sih yang layak didapatkan oleh para korban dari “kita”, orang-orang yang mengetahui kejadian tersebut?
Witnessing, rather than judging
Saya belajar frasa “good for you!” sebagai cara kecil untuk hadir tanpa langsung membandingkan hidup saya dengan hidup orang lain. Mirip dengan nasihat Brené Brown1 tentang empat langkah berempati: mengakui perspektif orang lain sebagai kemungkinan kebenaran, menahan diri untuk tidak langsung merespons atau menghakimi, menyadari emosi yang mereka rasakan, lalu mengomunikasikan empati kita dalam kata-kata yang hangat, bukan menggurui. Jika tidak diajarkan sejak kecil, proses ini penting kita pelajari lagi saat dewasa, agar mempermudah proses berkawan atau bersosialisasi.
Versi lebih ringan, bisa ditemui di buku The Art of Life Admin. Ada cerita anekdot tentang penulis dan mantan pasangannya yang saling mengingatkan dengan kalimat “Don’t Zen on me”; ketika salah satunya sedang tenang sehabis yoga, sementara yang lain kewalahan dengan urusan rumah tangga. Pesan ini sederhana: jangan pakai standar ketenangan atau keadaanmu untuk meremehkan stres yang dialami orang lain. Tidak semua orang punya ruang yang sama untuk bernapas, dan “jangan men-Zen-kan aku” adalah cara yang gamblang untuk berkata: validasi dulu kelelahan dan kekacauan hidupku, baru kalau mau, kita bisa ngobrol soal solusinya.
Meditasi juga mengajarkan hal serupa. Alih-alih buru-buru mengenyahkan rasa tidak nyaman, kita diajak untuk hanya menyaksikannya lewat. Andy Puddicombe menulis bahwa ketika kita melihat ketidaknyamanan muncul ke permukaan, sebenarnya kita sedang menyaksikan kepergiannya. Dalam praktiknya, Andy bahkan mengajak kita membayangkan bahwa ketidaknyamanan itu milik orang-orang yang kita sayangi, dan kita sedang “duduk bersama” rasa sakit mereka agar mereka tak menanggungnya sendirian. Bisa dibilang, hal ini adalah bentuk kedermawanan yang banal dan ringan untuk dilakukan.
Bukankah itu juga yang kita butuhkan di ruang-ruang publik? Alih-alih berlomba-lomba menjadi yang paling benar atau paling menderita, kita bisa mulai dengan memberikan perhatian penuh (saja).
“Good for you!” dalam arti terbaiknya adalah bentuk perhatian penuh dalam sebuah percakapan dan relasi yang kita miliki dengan manusia yang lain. Bukan sarkas, bukan komentar sambil lalu, melainkan pengakuan tulus: “aku melihatmu, aku percaya ceritamu, dan aku tidak perlu menjadikannya tentang diriku”. Di tengah linimasa yang sering kali lebih sibuk mengomentari daripada mendengarkan, mungkin ini salah satu cara paling sederhana untuk mengembalikan kita menapak tanah, “menyentuh rumput”, dan menjadi manusia yang menghargai sesamanya.
Dari buku Menjadi karya Afutami.



