Menyebrangi Batas Ilmu

Mengapa & Apa yang Penting untuk Dipelajari

Saat ini saya sedang membaca Range karya dari David Epstein. Secara umum ia berargumen bahwa manusia perlu memiliki range atau jangkauan yang luas & tidak terpancang pada satu celah saja. Ia mendukung seseorang untuk memiliki beragam pengalaman, pola pikir yang interdisipliner agar dapat melihat gambaran yang lebih luas (the bigger picture) di dunia yang hyper specialized. Gagasan yang diungkapkan Epstein ini membuat saya reflektif terhadap apa yang telah saya tempuh, sekaligus penasaran lebih lanjut untuk mempelajarinya. Berikut beberapa hal yang saya catat dari hasil ngulik topik ini. 

Manusia VS Mesin

Di bagian awal Range, penulis membahas tentang bagaimana perkembangan kemampuan berpikir mesin, dengan contoh di bidang catur. Ia memberikan contoh bagaimana mesin (atau komputer yang diprogram sedemikian rupa) dapat mengalahkan manusia, atau sebaliknya. Juga bagaimana ketika manusia dan mesin bekerja sama dalam freestyle chess. Kesimpulan yang didapatkan Epstein adalah mesin memiliki kemampuan untuk mempelajari langkah-langkah yang merupakan taktik terukur dari catur, sedangkan manusia memiliki kemampuan untuk melihat lebih luas & kemudian merancang strategi untuk dilakukan. 

Hal ini mengingatkan saya pada 2 hal: GPT-3 & jurnalisme. Di awal tahun 2020, kita mengetahui hadirnya GPT-3, artificial intelligence paling maju sejauh ini. Artikel ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir AI sudah sedemikian canggih menjawab pertanyaan tentang Tuhan, tetapi masih ada celah di sana, terutama untuk kedalaman argumen yang dibangun. 

Hal yang kedua adalah tentang apa itu pengertian jurnalisme menurut Nora Ephron, penulis kondang yang bercerita tentang pengalamannya mengikuti kelas Journalism 101 yang diajarkan oleh Charlie O. Simms.1 Di pertemuan awal, Simms memberi 1 paragraf data bahwa di hari Kamis minggu depan akan ada pertemuan besar yang diadakan pemerintah California yang wajib dihadiri seluruh guru, serta beberapa pembicara yang menjadi narasumber. Murid-murid kemudian diminta untuk membuat lead berita. Banyak yang fokus kepada nama besarnya, gubernur yang akan menjadi narasumber atau perihal wajib datangnya para guru. Tapi Simms menunjukkan lead yang benar: “Hari Kamis minggu depan sekolah libur”. 

Pelajaran ini sungguh membekas bagi Ephron, karena mengajarkan bahwa jurnalisme tidak semata-mata untuk tahu apa, siapa, bagaimana, di mana sesuatu itu terjadi. Tetapi, apa maknanya & mengapa hal ini penting (what it meant & why it mattered). Ephron menambahkan bahwa prinsip ini tidak hanya bermanfaat untuk profesinya tetapi juga dalam kehidupan. Untuk mengetahui apa yang penting & terkadang tersembunyi di balik fakta adalah salah satu keunggulan dari kemampuan kognitif manusia. 

Mental Models & Transferable Skills 

Apabila kita bicara tentang mengaplikasikan prinsip-prinsip dari satu rumpun ilmu ke yang lain, maka kita akan sampai pada mental models. Mental models menjelaskan bagaimana dunia ini ‘bekerja’. Ia kemudian membentuk bagaimana cara pikir kita, bagaimana kita memahami sesuatu & apa yang kita percayai itu terbentuk. 

Mental models bicara tentang konsep & cara berpikir, sedangkan sisi lain yang juga saya temukan adalah kemampuan yang dapat digunakan menyebrangi batasan ilmu adalah transferable skills. Contoh paling nyata bagi saya sendiri adalah bagaimana profesi saya sebelumnya sebagai guru rajut ‘ternyata’ memiliki banyak ketrampilan yang dapat dialih-gunakan dalam karir & profesi yang lain, seperti perencanaan kegiatan, public speaking, alur berpikir yang runtut, dsb. Penjelasan selengkapnya ada di artikel berikut.

Lagi Ngulik...
Transferable Skill dalam Career
Salah satu pertanyaan yang sering muncul di ranah career saat ini: bagaimana jika saya ingin berpindah career field yang sangat berbeda dengan yang sekarang saya jalani? Dan istilah yang ditawarkan sebagai jawaban mujarab adalah: Transferable Skill. Apa itu? Kemampuan atau keahlian yang dapat diaplikasikan di banyak bidang pekerjaan. Dengan memiliki set…
Read more

Epilog

Untuk menutup artikel ini, saya ingin kembali pada GPT-3. Saya mengenal seorang kawan UI/UX developer yang berkesempatan menguji GPT-3, dan ia meminta GPT-3 untuk merancang perjanjian hukum sederhana antar 2 pihak. Dari hasil yang diberikan, ia menilai bahwa GPT-3 dapat memberikan hasil setara dengan tugas administratif, mengkompilasi dari contoh entry yang telah ia miliki. Apakah jelek? Tidak. Tetapi tidak kritis & belum mampu menjawab apa yang dibutuhkan user. Secara umum, kawan ini menyarankan agar kita sebagai manusia mengasah critical thinking, creative thinking, recognizing pattern from one study & applying it to other fields, karena itu hal-hal yang belum bisa dilakukan oleh artificial intelligence.

Menurut saya hal ini sejalan dengan gagasan yang ditawarkan Epstein dalam Range. Tanpa mengecilkan teman-teman yang memang secara sadar & deliberately memilih jalur spesialisasi, perspektif ini menawarkan argumen yang menarik untuk menghadapi masa depan. 

Bagaimana menurutmu? Bisa tulis di kolom komentar di bawah ya!

1

Kisah ini muncul di Essentialism by Greg McKeown, halaman 73