Why should we write?
"Yang belum nulis, nulis yaa.."
Kalimat tersebut adalah pesan kecil dari Najelaa Shihab, yang menutup acara Raker Fellowship 2026 yang saya ikuti pekan ini. Entah mengapa, rasanya personal sekali. Beliau menegaskan juga beberapa hal terkait menulis, berkaitan dengan karya di berbagai medium termasuk sosial media. Sungguh-sungguh menyenggol hati, karena saya punya banyak ide tulisan yang masih terbengkalai hingga sekarang. Tulisan ini dibuat, salah satunya untuk mengingatkan diri sendiri, mengapa (saya) perlu terus menulis.


Menulis adalah daya ungkit dalam karir
Raker Fellowship 2026 adalah kegiatan yang mempertemukan berbagai organisasi yang berkecimpung di bidang edukasi. Kegiatan ini diinisiasi Mbak Ela dan saya hadir dengan kapasitas sebagai perwakilan dari Buibu Baca Buku Book Club. Dalam dua hari, saya mendapatkan banyak sekali pelajaran keorganisasian, dan juga yang bersifat personal. Kalimat yang saya kutip di atas, seakan menjadi titik kulminasi, menandai perubahan yang perlu saya usahakan.
Jujur saja, sebenarnya secara kuantitas dan kualitas, tulisan saya semakin sedikit dan tidak ada yang ditujukan untuk kualitas/level tertentu. Bisa dibilang, hanya artikel untuk Lagi Ngulik yang tetap saya penuhi secara teratur. Konten di media sosial pun berkurang jauh. Tulisan serius nan panjang apalagi. Padahal, banyak yang sedang saya jalani sekarang bermula dari kemampuan menulis, utamanya dalam sisi profesional. Aktivitas ini perlu saya tingkatkan levelnya dalam daftar prioritas saya, jika tidak ingin “begini-begini saja”.
Menulis sebagai ekspresi diri dan menciptakan “sihir”
Saat kita menulis dengan jujur, kita membiarkan lapisan terdalam identitas, keyakinan, dan emosi kita muncul dalam bentuk kata-kata yang bisa disentuh orang lain. Dan dalam pengalaman pribadi, tulisan yang bisa dirasakan itu berangkat dari ketulusan dan keterampilan yang berulang kali diasah. Itulah mengapa menulis terasa begitu personal dan rentan, tetapi juga begitu membebaskan: ia menjembatani dunia batin kita dengan dunia luar, dan dalam proses itu, mengubah keduanya.
Pendapat yang lebih seru tentang menulis, berangkat dari RF Kuang. Ia menyematkan kalimat ini dalam Yellowface, bahwa menulis adalah ekspresi diri yang paling kreatif sekaligus bentuk “sihir” paling nyata yang kita punya. Tulisan memberi kita cara untuk membentuk dunia kita sendiri ketika dunia nyata terasa terlalu menyakitkan. Di atas kertas (atau layar), kita bisa mengubah luka menjadi cerita, kebingungan menjadi kejelasan, dan ketakutan menjadi imajinasi yang hidup.
Apakah tulisan singkat ini berhasil meyakinkanmu untuk menulis (lagi)?



